Sedar


…Aku terlena seketika,
Melayan angin yang berlalu menyapa aku,
Entah mengapa resah bergema pada benak hati,
Ketika melihat keindahan mentari yang mulai redup,
Bak menyamai segala yang aku resahi...

...
Kala angin memasuki rongga dan liang badan,
Bagai isyarat mengetauhi segala yang aku fikirkan,
Yang sebenarnya,
Hari ini terasa berbeza,
Terasa kotak pemikiran bagai tersendat,
Dalam saat dan masa yang kadangkala berhenti berdetik,
Tiap kali terdengar seruan itu bergema,


Seruan itu kerap kali menusuk pintu hati,
Mengingatkan kepada yang aku lupa,
Lupa kepada yang esa,
Lupa kepada yang maha kuasa,
Adakah itu tanda hanyutnya dalam lubuk keduniaan?.


Seruan itu indah,
Terdapat irama tentang kebesaran dalam rentaknya,
Di ikuti ritma-ritma kesucian,
Lirik-lirik penenang jiwa hati,
Bak sebuah lagu yang menyeru peminat,
Agar terus mengingatinya...


Aku ingat?,
Ketika aku kecil,
Ayah ada menyanyikan untuk aku,
Saat itu hati masih sesuci kain putih,
Tidak berdebu,
Tanpa setitik kotoran dosa mengotorinya...


Adakah perasaan lupa dan tidak khusyuk mulai bermain?,
Mencari peluang menyesatkan denai pemikiran,
Yang mulai menghanyutkan jauh ke dasar kejahilan,
Yang mulai meredupkan awan iman dengan mendung hitam…


Aku duduk menghadap jendela,
Melihat pergerakan awan,
Bak menbentuk kalimah yang telah aku lupa,
Ingin mengingatkan kepada yang maha kamil,
Bukti betapa berkuasanya ia…


Merasa pergerakan angin,
kadangkala sepoi-sepoi bahasa,
kadangkala sebaliknya,
Bagai menandakan sesuatu yang berubah-ubah…


Aku termenung sejenak,
Membiarkan semua yang kusut,
Jua kemas terimbas dalam kotak pemikiran,
Membiarkan ia terus berlalu ke sebuah pintu memori,
Agar kesedaran bukan hanya di sebuah pintu mihrab yang kecil…

0 Orang Pengkritik:

;